Judul : Mengalir Meniti Ombak, Memoar Kritis Tiga KekalahanPenulis : Indra Jaya Piliang
Penerbit : Ombak Yogyakarta
Tahun : I, 2010
Tebal : xxiii + 568 halaman
Harga : Rp 65.000
Selama ini kita banyak membaca biografi kesuksesan dan narasi hiperbolik dari seseorang. Mulai dari tokoh bangsa, birokrat uzur, hingga pengusaha-pengusaha muda yang berhasil mencatatkan kejayaannya. Lalu, bagaimana jika ada seorang praktisi yang menuliskan kekalahannya? Bahkan tidak hanya satu, ada tiga kekalahan besar yang dia alami dan kemudian dibukukan untuk pembaca. Apalagi, dia adalah seorang politisi muda yang tengah berada dalam puncak usia kehidupannya yang sedang bergelora.
Itulah yang termaktub dalam buku Mengalir Meniti Ombak: Memoar Kritis Tiga Kekalahan yang ditulis oleh Indra Jaya Piliang, seorang politisi muda dari salah satu partai besar di
Mungkin tidak banyak orang yang mengenal sosok putra daerah Sumatera Barat ini. Namun bagi kalangan aktifis 1998 hingga 2000-an, Indra adalah salah seorang mahasiswa yang vokal berbicara di depan umum. Sekeluarnya dari kampus, ia kemudian aktif sebagai peneliti di Centre for Strategic and International Studies (CSIS) serta menjadi kolumnis di berbagai media
Gagal Menuju Gedung Dewan
Sebuah langkah besar, ketika di penghujung 2008 ia memutuskan untuk terjun ke dunia politik praktis yang selama ini hanya dianalisisnya melalui berbagai tulisan. IJP – sebutan singkat Indra Jaya Piliang – masuk ke Partai Golkar, dan menjadi salah seorang calon legislatif untuk DPR dari daerah pemilihan Sumbar 2 yang merupakan kampung halamannya.
“Hanya politik atau kekuasaan yang bisa menggerakkan orang-orang untuk membantu masalah kemanusiaan,“ tulis IJP di dalam bukunya (hal. 100). Sejak itulah keinginannya untuk bermain di kancah politik semakin membuncah.
Kerja keras pun dilakukan untuk memuluskan jalan menuju Gedung Dewan di Jakarta. Mungkin ini adalah salah satu pelajaran terbaik bagi siapa saja yang ingin terjun ke dunia politik. Kebanyakan politisi pemula, bahkan juga yang sudah uzur, selalu mengabaikan hasil survei yang dilakukan oleh berbagai lembaga. Padahal dengan survei ini, kita bisa membaca kekuatan sendiri dan kekuatan lawan sebagai langkah awal untuk menentukan strategi “perang.” Itulah yang dilakukan IJP sebagai usaha pertama.
Begitu juga, banyak politisi yang jarang pulang ke daerah pemilihannya selama masa kampanye. Paling, hanya sebulan atau dua bulan menjelang pemilihan saja para caleg tersebut sibuk memasang muka di hadapan masyarakat yang akan memilih. Berbeda dengan IJP. Ia selama berbulan-bulan benar-benar melakukan “gerilya” untuk bisa mendekati masyarakat, sekaligus mencari tahu apa yang mereka butuhkan.
Satu lagi yang paling penting adalah tim sukses. IJP memberikan kesempatan bagi anak-anak muda untuk ikut membantu kampanyenya, berbeda dengan politisi lain yang rela membayar mahal tenaga profesional hanya untuk menganalisis kekuatan di lapangan. Sayangnya, IJP tidak terpilih sebagai wakil rakyat dari Sumbar. Ia pun menuai kekalahan pertama.
Dua Kekalahan Tim Sukses
Kekalahan berikutnya yang harus dialami IJP adalah pada Pemilu Presiden 2009. IJP merupakan salah seorang tim sukes Jusuf Kalla yang merupakan calon presiden yang diusung oleh Golkar dengan pasangan wakilnya Wiranto dari Partai Hanura.
Mungkin bagi Anda yang selalu mengikuti pemberintaan kampanye pilres baik di media cetak, apalagi di televisi, pasti akrab dengan wajah IJP. Karena ia merupakan salah seorang juru bicara tim sukses JK-Wiranto yang cukup vokal berbicara. Bahkan, ia juga sempat dua kali dipercaya untuk menulis naskah pidato JK. Sayangnya, pasangan tersebut gagal dan kalah oleh pasangan SBY-Boediono.
Selanjutnya, IJP lagi-lagi menuai kegagalan ketiganya dalam dunia politik. Kali ini dalam pemilihan Ketua Umum Partai Golkar pada 7 Oktober 2009. Ia merupakan tim sukses dan juru bicara Yuddy Chrisnandi yang ikut mencalonkan diri. Padahal banyak orang yang memprediksi Yuddy tidak akan mampu menyaingi dua kandidat lainnya, yakni Aburizal Bakrie dan Surya Paloh.
“Saya lihat Yuddy ingin membongkar kultur oligarki dalam tubuh PG (Partai Golkar). Dalam beberapa kebijakan internal, dia berseberangan dengan suara PG. Gagasan regenerasi begitu kental dalam dirinya.” Demikian IJP menuliskan kesannya tentang Yuddy dalam Bab 25 bukunya tersebut. Meskipun, akhirnya Yuddy tetap juga kalah.
Bukan Akhir Segalanya
Untuk seseorang yang belum berumur 40 tahun, menulis biografi hanya seperti mencecah sebagian sejarah hidupnya yang masih penuh teka-teki.. Namun, IJP pastinya berharap para generasi muda yang pernah berniat dan ingin terjun ke dunia politik bisa memantapkan langkah dengan belajar dari pengalamannya itu.
IJP dengan detail menceritakan betapa terjalnya dunia politik itu. Namun, kesibukannya sebagai politisi ternyata tidak membatasi waktunya sebagai seorang intelektual muda. Hingga saat ini, nama IJP masih sering menghiasi halaman opini di berbagai media
Membaca buku ini seperti membawa kita untuk berziarah ke masa lalu penulis. Siapa yang menduga, dulu IJP berjualan es semasa SD, berdagang sate
Pesan terakhir yang paling penting dari keseluruhan isi buku ini, bahwa kekalahan bukan akhir segalanya. Bahwa sejarah boleh juga ditulis oleh mereka yang kalah, bukan hanya milik pemenang. “Buku ini layak dibaca oleh siapapun yang masih percaya, bahwa apa yang dinamakan sebagai kekalahan hanya sekadar tempelan sesaat dari pengalaman hidup yang lebih kaya,” tulis Jusuf Kalla pula di halaman depan buku tersebut.
Oleh: Adela Eka Putra Marza
* Dimuat di Harian Medan Bisnis (Minggu, 11 Juli 2010)

0 suara anda:
Poskan Komentar