Belasan anak-anak pelajar sekolah dasar naik ke atas panggung besar yang dibangun di sisi kiri Museum Negeri Sumatera Utara, di Jalan HM Joni, Medan. Mereka berbaris rapi dengan mengenakan seragam putih-merah khas pelajar SD. Kemudian dengan aba-aba dari seorang guru sebagai dirigennya, mereka pun bernyanyi dengan khidmat.
“Menuju peradaban yang maju demi Indonesia-ku, museum di hatiku.” Suara merdu para pelajar SD Methodist 5 itu mengalun. Terakhir ditutup dengan pembacaan puisi Krawang-Bekasi karya Chairil Anwar. Semua undangan terpukau dan terhipnotis oleh penampilan mereka. Tepuk tangan pun riuh memberikan aplaus.
Demikianlah bagian dari acara pembukaan Pameran Bersama tingkat Nasional yang digelar di Museum Negeri Sumut, Senin (19/7) pagi. Sebelumnya sejumlah penampilan kesenian dan kebudayaan Sumut juga disuguhkan bagi para tamu, di antaranya Tari Perang Nias dan Tari Persembahan Melayu Deli diiringi bunyi tabuhan Gondang Sambilan yang khas.
Tari Persembahan
Pembukaan pameran sejarah perjuangan Indonesia yang bertemakan “Medan Perjuangan Bangsa Indonesia dalam Mencapai dan Mempertahankan Kemerdekaan” itu dihadiri oleh sejumlah undangan yang mewakili berbagai museum di Indonesia. Selain itu, beberapa pejabat pemerintahan juga tampak mengikuti acara, seperti Staf Ahli Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata bidang Multikultural Sri Rahayu Budiarthi, Kadis Infokom Sumut Eddy Syofian, dan Kadisbudpar Sumut Sudarno.
Diikuti 20 Museum
Sebagai kegiatan tingkat nasional, pameran bersama ini diikuti oleh museum nasional dan museum dari berbagai daerah di Indonesia. Ada 20 museum nasional dari Jakarta dan museum negeri dari sejumlah daerah yang berpartisipasi menyertakan koleksinya dalam pameran bersama ini.
Di antaranya Museum Nasional, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Sumpah Pemuda, Museum Perumusan Naskah Proklamasi, dan Museum Polri. Kemudian, berepa museum dari provinsi lain seperti Museum Perjuangan Rakyat Jambi, Museum Negeri Sumatera Barat, dan Museum Negeri Kalimantan Selatan juga ikut serta.
Selain itu, museum-museum di Medan pun tentu tak mau ketinggalan. Seperti Museum Perjuangan Kodam I Bukit Barisan, Yayasan Museum Pers Sumut, Dewan Harian Daerah 45 Sumut, Pusat Studi Sejarah dan Ilmu-ilmu Sosial Unimed, dan tentu saja Museum Negeri Sumut.
Pameran yang juga dalam rangka mensukseskan Pekan Nasional Cinta Sejarah (PENTAS) yang sedang digalakkan Pemerintah Indonesia ini akan digelar selama satu bulan lebih, hingga 29 Agustus mendatang. Ratusan koleksi foto dan benda-benda perjuangan dipamerkan selama acara ini berlangsung.
“Selain untuk mensukseskan Tahun Kujungan Museum 2010, acara ini juga dalam rangka Pekan Nasional Cinta Sejarah. Hingga 29 Agustus nanti, sejumlah museum dari berbagai daerah akan memamerkan koleksinya di Museum Negeri Sumut,” ucap Kadisbudpar Sumut Sudarno dalam kata sambutannya. Acara pembukaan ini kemudian juga dilanjutkan dengan dialog interaktif yang diadakan di Wisma Universitas Sumatera Utara.
Jangan Lupakan Sejarah
Sementara itu, Gubernur Sumatera Syamsul Arifin sangat mendukung digelarnya acara pameran bersama ini. Karena nilai-nilai sejarah memang harus tetap dilestarikan, sehingga bisa dimaknai oleh setiap masyarakat dalam kehidupannya.
“Kami menyambut baik dan mendukung acara ini. Karena kita harus melestarikan sejarah dan nilai-nilai perjuangan kepada masyarakat agar dapat diteladani. Kita harus ingat perkataan Bung Karno, Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” jelas Syamsul Arifin dalam kata sambutannya yang dibacakan oleh Kadis Infokom Sumut Eddy Syofian.
Sejarah memang akan selalu memberikan pelajaran berharga bagi mereka yang mau belajar dan memahaminya. Karena dengan itu, kita dapat mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lalu, sebagai pedoman untuk menapaki masa yang akan datang.
Oleh karena itu, Kepala Museum Negeri Sumut Sri Hartini juga berharap agar museum dapat mengajarkan tentang sejarah bangsa ini kepada masyarakat, terutama generasi muda. Karena para generasi muda inilah yang nantinya akan melanjutkan estafet pembangunan di Indonesia menuju ke arah yang lebih baik.
“Kita berharap, bagaimana museum ini bisa dicintai oleh para generasi muda. Karena generasi muda yang akan melanjutkan budaya dan sejarah bangsa ini. Melalui museum, kita akan mengenalkan bagaimana sejarah panjang keberadaan Indonesia,” ungkap Sri pula di sela-sela acara pembukaan pameran bersama tersebut.
Makanya tak heran jika Sri bersama panitia pelaksana begitu bangga menampilkan para pelajar SD Methodist 5 di hadapan para tamu-tamu dari luar daerah yang hadir. Lirik lagu Museum Di Hatiku yang dibawakan anak-anak itu begitu mengena di hati semua orang. Mengajak setiap orang untuk kembali belajar sejarah dari museum.
Dilaporkan oleh: Adela Eka Putra Marza

